Selasa, 24 Juni 2014

MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL


MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN

MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL









MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Bahasa Indonesia Keilmuan

yang dibina oleh Ibu Novi Eka Susilowati,S.Pd.,M.Pd.











Oleh

Ario Pramono

NIM 130141600487










































UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Mei 2014


MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN

MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL



1.                  PENDAHULUAN

Pada saat ini Indonesia masih berstatus sebagai negara berkembang, hal ini disebabkan lambannya pembangunan pada sektor ekonomi yang menjadi salah satu faktor terhambatnya kemajuan pada Negara Indonesia. Padahal pada dasarnya Indonesia mempunyai SDA dan SDM yang cukup banyak dan potensial, akan tetapi dalam proses pengelolaannya masih kurang diperhatikan.Tanah yang subur serta keindahan alam yang tidak ternilai harganya seharusnya menjadi senjata ampuh untuk memajukan negara ini. Akan tetapi, fakta berkata lain. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Selain pada sektor ekonomi, kemiskinan di Indonesia juga disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah. Pendidikan dianggap sebagai hal yang tidak penting sehingga berdampak pada kelangsungan hidup yang serba terbatas. Kekurangan dalam hal ekonomi menjadi dampak yang paling jelas ketika pemikiran tentang pendidikan itu rendah. Kemiskinan yang tinggi juga menjadi beban pemerintah dalam mengembangkan atau memajukan suatu negara.

Fakta kehidupan yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas penduduk yang produktif bekerja serabutan ataupun menganggur. Pekerjaan yang memiliki pendapatan rendah harus dijalani hampir seluruh penduduk negara ini, dari kuli bangunan sampai buruh pabrik. Hal ini sekali lagi dikarenakan faktor pendidikan yang rendah, sehingga kehidupan layak sulit tercapai. Pendapatan yang mereka dapat hanyadi gunakan untuk makan dan minum saja, kemudian untuk kebutuhan lainnya mereka harus memutar otak lagi agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi dengan baik dan sesuai harapan.

Sebagian besar masyarakat Indonesia hidup di pedesaan yang mempunyai potensi-potensi baik, dansangat mendukung untuk kemajuan, dari tanahnya yang subur sampai air yang melimpah sehingga dapat berguna untuk pembangunan di pedesaan. Potensi yang sedemikian rupa sangat membantu pada penduduk desa yang mayoritas bekerja pada sektor pertanian. Akan tetapi faktor pendidikan yang rendah membuat hasil dari pertanian tersebut juga tidak dapat maksimal, dikarenakan pengetahuan para petani desa masih sangat kurang. Petani hanya mengandalkan cara-cara sederhana dalam melakukan proses pertanian. Sebenarnya jika para petani desa dapat belajar lebih banyak mengenai pertanian, hasil yang maksimal dan memuaskan pasti ada dalam genggamannya. Di sinilah peran penting pendidikan non-formal untuk memberikan pengetahuan baru dan lebih bermanfaat bagi petani pedesaan.

Pendidikan nonformal hadir membawakan progam-progam yang aktual dengan tujuan untuk memberikan solusi nyata terhadap masalah yang dihadapi para penduduk pedesaan saat ini, dari mulai pengembangan sumber daya, keterampilan,sampai peningkatan kualitas hidup penduduk pedesaan. Dengan latar belakang pendidikan masyarakat desa yang rendah, proses pembelajaran pendidikan nonformal juga akan menggunakan bahan ajar yang sesuai atau mudah dipahami dan di praktekkan langsung oleh masyarakat pedesaan itu sendiri. Beberapa contoh progam pendidikan nonformal yang dapat di terapkan pada masyarakat pedesaan antara lain adalah progam penyuluhan pertanian, progam pendidikan dalam bidang pertanian, kemudian progam pendidikan kejuruan di luar bidang pertanian. Progam-progam ini sekali lagi di harapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan yang selama ini kita tau hidup mereka masih jauh dari kata layak. Dalam hal ini maka pendidikan nonformal akan lebih menitikberatkan pada pengembangan pertanian di pedesaan mengingat mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani. Akan tetapi pengembangan di bidang lain juga akan diperhatiakan secara menyeluruh. Combs & Ahmed (1974:20) berpendapat sebagai berikut.

Setelah pembangunan pendidikan mulai bergerak maju, proses kemajuan itu dapat menyebar ke sektor-sektor lain. Pendapatan pertanian yang meningkat, terutama bila tersebar secara merata, akan menimbulkan kebutuhan terhadap sejumlah barang dan jasa-jasa yang kian lama kian meningkat baik dalam lingkungan pertanian maupun di luarnya. Maka para tukang, pengrajin dan pengusaha warung-warung akan merasakan rangsangan pula ; kota-kota pasar yang berdekatan asal ia sanggup menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang baru timbul, akan menjadi pusat-pusat pertumbuhan untuk aneka ragam usaha pembangunan pedesaan.



Dalam makalah ini akan di bahas empat hal, yaitu: (1) apa sajakah progam-progam pendidikan nonformal yang di tawarkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan?, (2) bagaimanakah pelaksanaan progam-progam pendidikan nonformal untuk masyarakat pedesaan?, (3) apa sajakah kendala yang mungkin terjadi saat pelaksanaan progam pendidikan nonformal tersebut?, dan (4) bagaimanakah solusi untuk mengatasi kendala saat pelaksanaan progam pendidikan nonformal tersebut?.

Adanya makalah ini di harapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang mengatasi kemiskinan di pedesaan melalui pendidikan non-formal. Selain itu,di harapkan juga hadirnya makalah ini dapat memberikan informasi tentang pentingnya suatu pendidikan untuk kemajuan kehidupan masyarakat pedesaan.

2.         PEMBAHASAN

a.         Progam-Progam Pendidikan Nonformal yang di Tawarkan Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Pedesaan.

Sebelum mengenalkan progam-progam pendidikan nonformal sebaiknya di paparkan terlebih dahulu spesifikasi kelompok sasaran serta pendidikan apa saja yang di perlukan oleh masyarakat pedesaan saat ini.

 Tabel 1 Kelompok Kejuruan di Desa dan Pendidikan Yang Di Butuhkan 
Sumber : Combs & Ahmed  (1974:23)

Kelompok
Jenis Pendidikan yang Di Butuhkan (Berlainan Tingkat Kecerdasan Serta Spesialisasi)



A. Penduduk yang langsung bergiat di bidang pertanian :
1. Petani budidaya komersial




2. Keluarga petani subsistensi dan setengah subsistensi

3. Buruh tani bukan pemilik tanah












B. Penduduk yang bergiat dalam usaha luar pertanian :
1. Pedagang besar dan pengecer bahan dan alat keperluan usaha pertanian, barang konsumsi, dan lain-lain.
2. Pengusaha jasa-jasa servis dan revarasi.
3. pengusaha pengolah, penimbun dan pengangkut komoditi pertanian.



4. Pengusaha jasa-jasa perbankan dan perkreditan.







5. Ahli bangunan dan pertukangan lainnya.
6. Pengusaha jasa-jasa angkutan umum.
7. Pengusaha industri kecil.
C. Pegawai pemerintah umum : pejabat daerah, ahli-ahli teknik :
1. Pejabat adminstrasi pemerintahan umum, ahli analisis bidang-luas, dan ahli perencana di bawah tingkat nasional.
2. Para manajer, perencana, ahli teknik, dan tenaga pengajar untuk jasa-jasa umum tertentu (antara lain pertanian, angkutan, irigasi, kesehatan, perindustrian kecil, pendidikan kesejahteraan, keluarga, pemerintah lokal, dan sebagainya).
3. Manajer koperasi dan organisasi petani lainnya.




4.manajer dan pejabat lain pada badan jasa-jasa perkreditan.


Perencanaan dan pengelolaan ladang; pengambilan keputusan wajar; memelihara catatan dokumentasi; menghitung biaya dan pendapatan; memanfaatkan kredit.
Penggunaan input baru, varietas unggul dan cara kerja bercocok tanam yang di sempurnakan.
Penimbunan, pengelolaan dan pengawetan bahan pangan.
Keterampilan tambahan untuk memelihara dan memperbaiki ladang, dan kerja sambilan untuk penambahan pendapatan.
Pengetahuan tentang jasa-jasa, kebijaksanaan, proga dan sasaran pemerintah.
Pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga (kesehatan, ilmu, gizi, merawat/mengasuh anak, KB).


Keterampilan tehnik yang mutakhir dan disepurnakan berkenaan dengan barang-barang dan jasa-jasa tertentu.

Pengawasan mutu.

Pengetahuan teknis tentang barang dagangan agar dapat sekedar memberi petunjuk kepada pembeli mengenai cara penggunaan dan pemeliharaan yang wajar.
Keterampilan manajemen (perencanaan niaga, pemeliharaan catatan dan akuntansi biaya; pengadaan dan pengawasan inventaris; analisis pasar dan metode penjualan; hubungan langganan dan hubungan perburuhan; pengetahuan menegenai jasa-jasa dan peraturan pemerintah, perpajakan; pemanfaatan kredit)







Keterampilan umum di bidang administrasi, perencanaan, pelaksanaan, arus informasi, kegiatan promosi.

Keterampilan teknik dan manajemen dalam  bidang spesialisasi tertentu.





Keterampilan kepemimpinan untuk membangkitkan kegairahan di kalangan masyarakat dan menggerakkan kegiatan gotong-royong, semangat kerja sama beregu, dan mengusahakan dari pihak  eselon atasan.












Dari pemaparan di atas dapat diketahui pendidikan apa saja yang akan di optimalkan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyrakat pedesaan. Pendidikan nonformal akan menawarkan tiga progam pendidikan, yaitu: (1) progam penyuluhan pertanian, (2) progam pendidikan bidang pertanian, (3) progam pendidikan kejuruan luar pertanian.

“Usaha penyuluhan merupakan bentuk utama pendidikan untuk kaum tani di kebanyakan negara” (Combs & Ahmed, 1974:55). Dalam penyuluhan pertanian ada beberapa ciri/unsur umum yaitu tujuan, sasaran, bahan ajar/bahan pendidikan, serta metode yang di gunakan. Tujuan haruslah sesuai dengan apa yang di harapkan oleh objek penyuluhan yang di sini kita sebut sebagai petani. Yang kedua yaitu sasaran. Dalam memilih objek penyuluhan haruslah tepat dan di dahului dengan pemilihan secara selektif sehingga dapat terwujudnya tujuan yang di inginkan. Selanjutnya adalah bahan pendidikan. Bahan pendidikan haruslah sesuai dengan masalah yang di hadapi para petani saat ini, kemudian di usahakan untuk memilih bahan ajar yang mampu dipahami oleh objek penyuluhan mengingat tingkat pemikiran para petani desa yang berbede-beda dan mayoritas berpendidikan rendah. Metode yang dipilih untuk penyuluhan  haruslah komunikatif dan sesuai dengan teori-teori pendidikan dengan tujuan agar  cepat menghasilkan inovasi-inovasi baru yang menguntungkan dan bermanfaat.

Progam yang kedua yaitu progam pendidikan di bidang pertanian. Pada dasarnya banyak sekali pusat-pusat pendidikan yang berbasis pendidikan petani yang di dalamnya juga terdapat tujuan, metode, serta bahan ajar yang beragam. Tetapi terkadang yang menjadi hambatan adalah penyampaian bahan ajar yang kurang sesuai dengan tingkat pemikiran petani di Indonesia. Terkadang juga dalam praktek langsung di lapangan juga jarang di perhatikan atau kurang maksimal sehingga sulit untuk merasakan dampak dari pendidikan pertanian tersebut. Pendidikan nonformal akan mencoba memberikan pengetahuan pada para petani desa khususnya untuk mengolah sawah atau ladangnya agar menghasilkan manfaat bagi para petani itu sendiri ataupun antar petani di desa. Tentunya model-model pembelajaran yang efektif dan efisien akan di terapkan dalam memberikan pendidikan pada para petani. Agar tercapainya tujuan pembelajaran tersebut.

Dalam progam ini akan di tekankan suatu pendidikan atau latihan kepada masyarakat desa yang bekerja diluar bidang pertanian. Sasaran pada progam ini adalah para pedagang, tukang bangunan, wiraswasta (yang memegang peranan kecil), serta di terapkan pula pada masyarakat yang masih menganggur/belum bekerja. Progam ini bertujuan untuk melatih skill serta menambah pengetahuan pada bidang pekerjaan tertentu.

b.         Pelaksanaan Progam-Progam Pendidikan Nonformal Untuk Masyarakat Pedesaan

            Pada pembahasan yang sebelumnya sudah di jelaskan gambaran umum mengenai progam-progam yang di tawarkan untuk masyarakat pedesaan dan semua progam itu pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan itu sendiri. Pada pembahasan kali ini akan di jelaskan secara rinci bagaimana pelaksanaan progam-progam tersebut. Untuk yang pertama akan di jelaskan bagaimana pelaksanaan progam penyuluhan pertanian.

            Dalam progam penyuluhan pertanian terdapat suatu model penyuluhan yaitu model penyuluhan konvensional. Model ini pernah di terapkan di Amerika Latin dan sebagian besar di negara-negara Asia. Pada model ini di terdapat beberapa unsur yaitu tujuan, sasaran, bahan ajar/bahan pendidikan, serta metode. Tujuan utama dari penyuluahan dengan menggunakan model konvensional ialah “menggairahkan dan membantu kaum tani untuk meningkatkan produksi dengan menerapkan cara-cara kerja teknik yang sempurna” (Combs & Ahmed, 1974: 42). Kerja teknik yang dimaksudkan ialah seperti memilih bibit yang baik, pengolahan tanah yang baik dan tidak merusak kualitas tanah, penggunaan pupuk organik sangat dianjurkan pada tahap ini seandainya harus terpaksa menggunakan pupuk kimia maka penggunaanya haruslah sesuai dengan aturan, selanjutnya penggunaan alat-alat pertanian yang ramah lingkungan, dengan menjalankan tahap-tahap ini, diharapkan dapat menuai hasil yang maksimal dan baik.

            Unsur yang kedua yaitu sasaran penyuluhan. Sasaran yang utama yaitu para kaum petani yang mempunyai ladang luas dan berjiwa progesif serta memiliki peran besar dalam perkembangan ekonomi desa. Dalam tahap ini para kaum buruh juga di ikutsertakan guna memperluas pandangan pemikiran mereka mengenai dunia pertanian yang baik. Unsur yang ketiga yaitu bahan ajar/bahan pendidikan untuk para petani desa. Unsur ini merupakan unsur yang terpenting dalam model konvensional karena bahan ajar yang diberikan akan mempengaruhi hasil yang ingin dituju. Dalam proses pembelajaran/pemberian pengetahuan juga harus diperhatikan cara penyampaian kepada para petani yang mayoritas berumur di atas 25 tahun dan berpendidikan rendah. Bahan ajar yang sederhana tapi mengena dan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi) lebih dianjurkan untuk di terapkan di sini. Dengan pendekatan andragogi, para petani diharapakan akan lebih nyaman dan terfokus dalam memperoleh pengetahuan baru. Bahan ajar berisi cara pengelolaan pertanian menggunakan teknologi produksi. Para petani di ajarkan bagaimana menggunakan alat-alat produksi modern yang efektif dan efisien“seperti penggunaan traktor dalam pengolahan tanah, terutama didorong oleh naiknya upah tenaga kerja manusia dan ternak” (Kasryno, 1984: 34)dengan harapan akan meningkatnya hasil dari pertanian itu sendiri. Di lapangan diterjunkan beberapa ahli untuk mendampingi para petani dalam menggunakan alat-alat produksi tersebut dengan demikian materi yang di berikan saat di forum belajar akan terlaksana dengan baik saat berada di lapangan.

            Unsur yang terakhir dalam penyuluhan pertanian ialah metode. “Metode-metode yang digunakan dalam usaha penyuluhan bersumber kepada rangkaian teori-teori ilmu pendidikan,komunikasi dan perdagangan” (Combs & Ahmed, 1974: 43). Penggunaan metode-metode tersebut bertujuan agar munculnya inovasi yang menguntungkan secara cepat dan luas. Metode-metode ini juga berkaitan erat dengan beberapa hal yaitu meningkatkan kesadaran diri dan minat dari para petani desa.

            Selanjutnya akan dibahas mengenai progam pendidikan dalam bidang pertanian. Di dunia banyak terdapat pusat-pusat pendidikan pertanian contoh saja pada negara Kenya (Pusat Pendidikan Penduduk Pedesaan) dengan model pendidikan kejuruan, dan di Kolombia ( Progam Pembinaan Kejuruan Rakyat Pedesaan) yang menggunakan model pendidikan dengan menggunakan sarana pendidikan yang berkeliling pada pelosok-pelosok desa terpencil. Dari berbagai progam tersebut memiliki corak yang berbeda tetapi tetap“menggunakan azas-azas dan metode pendidikan melalui serangkaian satuan pengajaran yang sistematis....untuk membina kemahiran dalam kepandaian tertentu beserta ilmu pengetahuan tertentu” (Combs & Ahmed, 1974: 57). Dalam bahasan kali ini akan menitik beratkan pada usaha pembinaan keterampilan dan pengetahuan dengan produksi pertanian.

Pendidikan bidang pertanian akan dibagi menjadi dua kategori yaitu pendidikan jangka pendek dan pendidikan jangka panjang. Dalam pendidikan jangka pendek para petani diberi pengetahuan mengenai produksi tanaman komersil. Jadi tidak hanya terpaku pada produksi padi dan jagung saja yang saat ini menjadi tanaman mayoritas di pedesaan. Hal ini juga dapat mensiasati jika harga bibit padi atau pupuk melambung tinggi jadi para petani dapat beralih kepada tanaman komersil lainnya yang bibit serta pupuknya mudah didapat.  “Namun metodologi pengajarannya seragam, yaitu rangkapan ceramah di ruang kelas....dan bergantian dengan kerja praktek di lapangan” (Combs & Ahmed, 1974: 60).

Selanjutnya akan dibahas mengenai pendidikan jangka panjang. Combs & Ahmed (1974:65) berpendapat sebagai berikut.

Ada empat ciri-ciri khas isi progam pendidikan ini yang perlu disoroti. Pertama, diusahakan sedapat mungkin untuk menyesuaikan bahan pengajaran dengan pola budidaya dan keadaan lingkungan di kampung halaman para peserta. Kedua, seluruh kursus diselenggarakan sesuai dengan suatu siklus penuh untuk budidaya bersangkutan, dan setiap bagian pengajaran disesuaikan dengan tahap tertentu dalam siklus budidaya tersebut. Ketiga, bagian terbanyak dari masa pelajaran disediakan untuk kerja praktek di ladang 25—33 sidang pelajaran dari sejumlah 48 sidang seluruhnya. Keempat, pelajaran di ruang kelas lebih dititikberatkan pada diskusi dalam kelompok-kelompok kecil daripada ceramah pengajaran. Metode ilmu pendidikan nampak sangat kontras dibanding pendekatan akademis dan didaktis yang lazim diterapkan pada progam-progam pendidikan pertanian formal....pada mulanya dimaksudkan untuk banyak menggunakan peraga (visual aids), khususnya film pendidikan, namun ternyata film-film yang tersedia kurang sesuai, maka sekarang kurang diutamakan menggunakan alat peraga. Juga disediakan bahan-bahan bacaan dan setiap siswa diberi ikhtisar ringkas (aide memoire) tentang tiap-tiap mata pengajaran.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran tersebut harus diperhatikan bahan ajarnya. Bahan ajar yang digunakan haruslah sesuai dan mudah dipahami oleh peserta didik (kaum petani). Juga dalam proses pendidikannya haruslah lebih banyak praktek serta diskusi sehingga ilmu yang di dapat segera terasa manfaatnya.

Progam pendidikan yang terakhir yaitu progam pendidikan kejuruan di luar bidang pertanian. Sebelum menginjak keprogam pendidikannya sebaiknya langkah yang pertama ialah menganalisis keterampilan apa saja yang dibutuhkan di pedesaan. Di pedesaan selain berprofesi sebagai petani, masyarakatnya juga berprofesi sebagai tukang/pengrajin serta pengusaha industri kecil. Dalam progam pendidikan ini akan dibagi tiga sasaran pendidikan yang pertama adalah pendidikan untuk pemuda dan kaum dewasa usia muda, yang kedua ialah pendidikan teknik untuk pemuda dan pengrajin yang sudah bekerja, yang ketiga adalah pendidikan rencana pembinaan industri kecil.

Pada progam pendidikan untuk pemuda dan kaum dewasa usia muda didasarkan pada suatu tujuan yaitu untuk mempersiapkan mereka agar mendapat pekerjaan yang susuai. Keterampilan yang akan diajukan juga relevan dengan keadaan saat ini contoh kecil saja keterampilan menjahit. Keterampilan ini jarang sekali dimiliki oleh anak muda sekarang dan ini merupakan peluang besar bagi mereka untuk menghasilkan sesuatu dari keterampilan ini.

Selanjutnya ialah progam pendidikan teknik bagi pemuda dan pengrajin yang sudah bekerja. Progam ini didasarkan pada satu tujuan yaitu “untuk meningkatkan mutu pekerjaan, keanekaragaman, produktivitas dan pendapatan mereka” (Combs & Ahmed, 1974:79). Pada progam ini para pemuda dan pengrajin diajarkan berkreasi seoptimal mungkin agar hasil yang di ciptakan tidak monoton dan lebih bervariasi. Misalnya dengan mengenalkan motif-motif baru khas daerah tertentu yang dapat di aplikasikan pada kerajinan yang di buatnya. Dalam cara mengajar seorang pendidik disini haruslah lebih menitik beratkan pada praktek langsung sehingga pengaplikasian ilmu serta manfaat dapat langsung terasa.

Progam pendidikan yang terakhir ialah pendidikan rencana pembinaan industri kecil. Pendidikan ini bertujuan untuk peningkatan kualitas kerja pemimpin perusahaan serta karyawannya baik dalam sistem oprasional maupun non-oprasional. Objek pertama progam pendidikan ini tentunya adalah pemimpin perusahaan/industri kecil. Hal yang perlu di tingkatkan ialah bagaimana memanajemen keuangan, mengelola sumber daya, serta strategi bertahan dalam dunia pasar. Objek pendidikan yang kedua ialah karyawan perusahaan/industri kecil. Hal yang perlu di tingkatkan ialah etos kerja serta motivasi diri. Kedua hal ini adalah hal pokok yang harus dipenuhi oleh semua karyawan disamping kemampuan teknis yang memadai.

c.         Kendala yang Mungkin Terjadi Saat Pelaksanaan Progam Pendidikan Nonformal

            Secara keseluruhan progam-progam pendidikan nonformal tersebut memiliki sasaran dan tujuan yang sama yaitu kesejahteraan masyarakat pedesaan. Tapi langkah menuju kesejahteraan tidaklah mudah banyak hal yang harus di perjuangkan. Masalah-masalah juga kerap kali muncul dalam proses peningkatan kualitas hidup itu. Masalah yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan progam-progam tersebut ialah biaya atau pendanaan, fasilitas penunjang, motivasi serta kualitas diri. Hal ini merupakan pokok masalah yang harus cepat tertangani. Apabila masalah ini terus ada, maka harapan-harapan masyarakat desa untuk sejahterah akan sulit terwujud.

d.         Solusi Untuk Mengatasi Kendala Saat Pelaksanaan Progam Pendidikan Nonformal

            Pada penjelasan sebelumnya sudah dijelaskan beberapa masalah yang muncul dalam pelaksanaan progam-progam pendidikan nonformal antara lain yaitu biaya,fasilitas penunjang, motivasi dan kualitas diri. Ada beberapa solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diantaranya yang pertama untuk mengatasi masalah biaya atau pendanaan dalam pelaksanaan progam tersebut di lapangan. Solusi yang ditawarkan dalam mengatasi masalah keuangan ialah melakukan pinjaman di koperasi unit desa ataupun melakukan kredit. Hal ini diharapkan dapat mengatasi masalah finansial dalam pelaksanaan progam tersebut. Keuntungan peminjaman pada koperasi yaitu bunga yang sangat kecil kemudian ada pula yang sistem pembayarannya dilakukan setiap panen sehingga hal ini memudahkan petani untuk berkembang dengan pendanaan seperti ini.

            Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah minimnya fasilitas dalam pelaksanaan progam ini adalah dengan membeli menggunakan dana pinjaman dari koperasi unit desa  atau mengkredit alat produksi mekanis seperti traktor untuk mengolah tanah mengingat upah manusia dan ternak yang tinggi. Hal ini berlaku untuk petani yang memiliki sawah atau ladang yang luas. Bagi kaum buruh tani yang hanya menguasai faktor produksi tenaga kerja maka buruh tani hanya dapat menerima balas jasa dari pemilik tanah. Solusi yang ditawarkan untuk peningkatan motivasi serta kualitas diri ialah dengan memberikan suatu pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat desa itu sendiri yang tentunya hasilnya cepat dapat dirasakan. Tentunya pendidikan disini haruslah efektif dan efisien untuk perkembangan kehidupan masyarakat pedesaan.

3.         PENUTUP

Pendidikan nonformal menawarkan beberapa progam untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Ada tiga progam yang menjadi landasan pengembangan kualitas hidup masyarakat desa, yaitu (1) progam penyuluhan pertanian, (2) progam pendidikan bidang pertanian, (3) progam pendidikan kejuruan luar pertanian. Dari ketiga progam ini memang lebih dititik beratkan pada petani mengingat mayoritas penduduk desa adalah petani. Akan tetapi pendidikan nonformal juga menyoroti masyarakat yang bekerja diluar bidang pertanian.

Jika semua penduduk desa dapat melaksanakan progam tersebut maka penghasilan yang diperoleh oleh masyarakat desa akan meningkat. Masalah ekonomi yang selama ini dirasakan masyarakat desa akan berkurang. Kualitas hidup masyarakat desa juga akan semakin membaik serta jurang kesenjangan sosial juga akan semakin menyempit.

DAFTAR RUJUKAN

Combs, H Philip. 1974. Memerangi Kemiskinan di Pedesaan Melalui Pendidikan Nonformal. Jakarta: CV. Rajawali

Kasryno, F. 1984. Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan Indonesia. Bogor: PT Midas Surya Grafindo