MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN
MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI
TUGAS MATAKULIAH
Bahasa Indonesia
Keilmuan
yang dibina oleh
Ibu Novi Eka Susilowati,S.Pd.,M.Pd.
Oleh
Ario Pramono
NIM 130141600487

UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN
LUAR SEKOLAH
MEMERANGI KEMISKINAN DI PEDESAAN
MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL
1.
PENDAHULUAN
Pada saat ini
Indonesia masih berstatus sebagai negara berkembang, hal ini disebabkan lambannya pembangunan pada sektor
ekonomi
yang menjadi salah satu
faktor terhambatnya kemajuan pada Negara Indonesia. Padahal pada dasarnya Indonesia mempunyai SDA
dan SDM yang cukup banyak dan potensial, akan tetapi dalam proses
pengelolaannya masih kurang diperhatikan.Tanah yang subur serta keindahan alam
yang tidak ternilai harganya seharusnya menjadi senjata ampuh untuk memajukan
negara ini. Akan tetapi, fakta berkata lain. Sebagian besar masyarakat
Indonesia masih hidup dalam kemiskinan. Selain pada sektor ekonomi, kemiskinan
di Indonesia juga disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah. Pendidikan dianggap
sebagai hal yang tidak penting sehingga berdampak pada kelangsungan hidup yang
serba terbatas. Kekurangan dalam hal ekonomi menjadi dampak yang paling jelas
ketika pemikiran tentang pendidikan itu rendah. Kemiskinan yang tinggi juga
menjadi beban pemerintah dalam mengembangkan atau memajukan suatu negara.
Fakta kehidupan
yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas
penduduk yang produktif bekerja serabutan ataupun menganggur. Pekerjaan yang
memiliki pendapatan rendah harus dijalani hampir seluruh penduduk negara ini,
dari kuli bangunan sampai buruh pabrik. Hal ini sekali lagi dikarenakan faktor
pendidikan yang rendah, sehingga kehidupan layak sulit tercapai. Pendapatan
yang mereka dapat hanyadi gunakan untuk makan dan minum saja, kemudian untuk
kebutuhan lainnya mereka harus memutar otak lagi agar kebutuhan tersebut dapat
terpenuhi dengan baik dan sesuai harapan.
Sebagian besar
masyarakat Indonesia hidup di pedesaan yang mempunyai potensi-potensi baik, dansangat
mendukung untuk kemajuan, dari tanahnya yang subur
sampai air yang melimpah sehingga dapat berguna untuk pembangunan di pedesaan.
Potensi yang sedemikian rupa sangat membantu pada penduduk desa yang mayoritas
bekerja pada sektor pertanian. Akan tetapi faktor pendidikan yang rendah
membuat hasil dari pertanian tersebut juga tidak dapat maksimal, dikarenakan
pengetahuan para petani desa masih sangat kurang. Petani hanya
mengandalkan cara-cara sederhana dalam melakukan proses pertanian. Sebenarnya
jika para petani desa dapat belajar lebih banyak mengenai pertanian, hasil yang
maksimal dan memuaskan pasti ada dalam genggamannya. Di sinilah peran penting pendidikan
non-formal untuk memberikan pengetahuan baru dan lebih bermanfaat bagi petani
pedesaan.
Pendidikan nonformal
hadir membawakan progam-progam yang aktual dengan tujuan untuk memberikan
solusi nyata terhadap masalah yang dihadapi para penduduk pedesaan saat ini,
dari mulai pengembangan sumber daya, keterampilan,sampai peningkatan kualitas
hidup penduduk pedesaan. Dengan latar belakang pendidikan masyarakat desa yang
rendah,
proses pembelajaran
pendidikan nonformal juga akan menggunakan bahan ajar yang sesuai atau mudah dipahami
dan di praktekkan langsung oleh masyarakat pedesaan itu
sendiri. Beberapa contoh progam pendidikan nonformal yang dapat di terapkan
pada masyarakat pedesaan antara lain adalah progam penyuluhan pertanian, progam
pendidikan dalam bidang pertanian, kemudian progam pendidikan kejuruan di luar
bidang pertanian. Progam-progam ini sekali lagi di harapkan mampu meningkatkan
kualitas hidup masyarakat pedesaan yang selama ini kita tau hidup mereka masih
jauh dari kata layak. Dalam hal ini maka pendidikan nonformal akan lebih
menitikberatkan pada pengembangan pertanian di pedesaan mengingat mayoritas
penduduk desa berprofesi sebagai petani. Akan tetapi pengembangan di bidang
lain juga akan diperhatiakan secara menyeluruh. Combs & Ahmed (1974:20) berpendapat
sebagai berikut.
Setelah
pembangunan pendidikan mulai bergerak maju, proses kemajuan itu dapat menyebar
ke sektor-sektor lain. Pendapatan pertanian yang meningkat, terutama bila
tersebar secara merata, akan menimbulkan kebutuhan terhadap sejumlah barang dan
jasa-jasa yang kian lama kian meningkat baik dalam lingkungan pertanian maupun
di luarnya. Maka para tukang, pengrajin dan pengusaha warung-warung akan
merasakan rangsangan pula ; kota-kota pasar yang berdekatan asal ia sanggup
menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang baru timbul, akan menjadi pusat-pusat
pertumbuhan untuk aneka ragam usaha pembangunan pedesaan.
Dalam makalah ini akan
di bahas
empat hal, yaitu: (1) apa sajakah progam-progam pendidikan nonformal yang di
tawarkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan?, (2) bagaimanakah pelaksanaan progam-progam pendidikan nonformal
untuk masyarakat pedesaan?, (3) apa sajakah kendala yang mungkin terjadi saat
pelaksanaan progam pendidikan nonformal tersebut?, dan (4) bagaimanakah solusi untuk mengatasi kendala
saat pelaksanaan progam pendidikan nonformal tersebut?.
Adanya makalah
ini di harapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang mengatasi
kemiskinan di pedesaan melalui pendidikan non-formal. Selain itu,di harapkan juga hadirnya makalah ini dapat
memberikan informasi tentang pentingnya suatu pendidikan untuk kemajuan
kehidupan masyarakat pedesaan.
2.
PEMBAHASAN
a. Progam-Progam Pendidikan Nonformal yang
di Tawarkan Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Pedesaan.
Sebelum mengenalkan
progam-progam pendidikan nonformal sebaiknya di paparkan terlebih dahulu
spesifikasi kelompok sasaran serta pendidikan apa saja yang di perlukan oleh
masyarakat pedesaan saat ini.
Tabel
1 Kelompok Kejuruan di Desa dan Pendidikan Yang Di Butuhkan
Sumber
: Combs & Ahmed (1974:23)
Kelompok
|
Jenis
Pendidikan yang Di Butuhkan (Berlainan Tingkat Kecerdasan Serta Spesialisasi)
|
A. Penduduk yang langsung bergiat di
bidang pertanian :
1. Petani budidaya komersial
2. Keluarga petani subsistensi dan
setengah subsistensi
3. Buruh tani bukan pemilik tanah
B. Penduduk yang bergiat dalam usaha
luar pertanian :
1. Pedagang besar dan pengecer bahan
dan alat keperluan usaha pertanian, barang konsumsi, dan lain-lain.
2. Pengusaha jasa-jasa servis dan
revarasi.
3. pengusaha pengolah, penimbun dan
pengangkut komoditi pertanian.
4. Pengusaha jasa-jasa perbankan dan
perkreditan.
5. Ahli bangunan dan pertukangan
lainnya.
6. Pengusaha jasa-jasa angkutan umum.
7. Pengusaha industri kecil.
C. Pegawai pemerintah umum : pejabat
daerah, ahli-ahli teknik :
1. Pejabat adminstrasi pemerintahan
umum, ahli analisis bidang-luas, dan ahli perencana di bawah tingkat
nasional.
2. Para manajer, perencana, ahli
teknik, dan tenaga pengajar untuk jasa-jasa umum tertentu (antara lain
pertanian, angkutan, irigasi, kesehatan, perindustrian kecil, pendidikan
kesejahteraan, keluarga, pemerintah lokal, dan sebagainya).
3. Manajer koperasi dan organisasi
petani lainnya.
4.manajer dan pejabat lain pada badan
jasa-jasa perkreditan.
|
Perencanaan dan pengelolaan ladang;
pengambilan keputusan wajar; memelihara catatan dokumentasi; menghitung biaya
dan pendapatan; memanfaatkan kredit.
Penggunaan input baru, varietas unggul
dan cara kerja bercocok tanam yang di sempurnakan.
Penimbunan, pengelolaan dan pengawetan
bahan pangan.
Keterampilan tambahan untuk memelihara
dan memperbaiki ladang, dan kerja sambilan untuk penambahan pendapatan.
Pengetahuan tentang jasa-jasa,
kebijaksanaan, proga dan sasaran pemerintah.
Pengetahuan dan keterampilan untuk
meningkatkan kesejahteraan keluarga (kesehatan, ilmu, gizi, merawat/mengasuh
anak, KB).
Keterampilan tehnik yang mutakhir dan
disepurnakan berkenaan dengan barang-barang dan jasa-jasa tertentu.
Pengawasan mutu.
Pengetahuan teknis tentang barang
dagangan agar dapat sekedar memberi petunjuk kepada pembeli mengenai cara
penggunaan dan pemeliharaan yang wajar.
Keterampilan manajemen (perencanaan
niaga, pemeliharaan catatan dan akuntansi biaya; pengadaan dan pengawasan
inventaris; analisis pasar dan metode penjualan; hubungan langganan dan
hubungan perburuhan; pengetahuan menegenai jasa-jasa dan peraturan
pemerintah, perpajakan; pemanfaatan kredit)
Keterampilan umum di bidang
administrasi, perencanaan, pelaksanaan, arus informasi, kegiatan promosi.
Keterampilan teknik dan manajemen
dalam bidang spesialisasi tertentu.
Keterampilan kepemimpinan untuk
membangkitkan kegairahan di kalangan masyarakat dan menggerakkan kegiatan
gotong-royong, semangat kerja sama beregu, dan mengusahakan dari pihak eselon atasan.
|
Dari pemaparan di atas
dapat diketahui pendidikan apa saja yang akan di optimalkan untuk mewujudkan
kesejahteraan bagi masyrakat pedesaan. Pendidikan nonformal akan menawarkan
tiga progam pendidikan, yaitu: (1) progam penyuluhan pertanian, (2) progam
pendidikan bidang pertanian, (3) progam pendidikan kejuruan luar pertanian.
“Usaha penyuluhan
merupakan bentuk utama pendidikan untuk kaum tani di kebanyakan negara” (Combs
& Ahmed, 1974:55). Dalam penyuluhan pertanian ada beberapa ciri/unsur umum
yaitu tujuan, sasaran, bahan ajar/bahan pendidikan, serta metode yang di
gunakan. Tujuan haruslah sesuai dengan apa yang di harapkan oleh objek
penyuluhan yang di sini kita sebut sebagai petani. Yang kedua yaitu sasaran.
Dalam memilih objek penyuluhan haruslah tepat dan di dahului dengan pemilihan
secara selektif sehingga dapat terwujudnya tujuan yang di inginkan. Selanjutnya
adalah bahan pendidikan. Bahan pendidikan haruslah sesuai dengan masalah yang
di hadapi para petani saat ini, kemudian di usahakan untuk memilih bahan ajar
yang mampu dipahami oleh objek penyuluhan mengingat tingkat pemikiran para
petani desa yang berbede-beda dan mayoritas berpendidikan rendah. Metode yang
dipilih untuk penyuluhan haruslah
komunikatif dan sesuai dengan teori-teori pendidikan dengan tujuan agar cepat menghasilkan inovasi-inovasi baru yang
menguntungkan dan bermanfaat.
Progam yang kedua yaitu
progam pendidikan di bidang pertanian. Pada dasarnya banyak sekali pusat-pusat
pendidikan yang berbasis pendidikan petani yang di dalamnya juga terdapat
tujuan, metode, serta bahan ajar yang beragam. Tetapi terkadang yang menjadi
hambatan adalah penyampaian bahan ajar yang kurang sesuai dengan tingkat
pemikiran petani di Indonesia. Terkadang juga dalam praktek langsung di
lapangan juga jarang di perhatikan atau kurang maksimal sehingga sulit untuk
merasakan dampak dari pendidikan pertanian tersebut. Pendidikan nonformal akan
mencoba memberikan pengetahuan pada para petani desa khususnya untuk mengolah
sawah atau ladangnya agar menghasilkan manfaat bagi para petani itu sendiri
ataupun antar petani di desa. Tentunya model-model pembelajaran yang efektif
dan efisien akan di terapkan dalam memberikan pendidikan pada para petani. Agar
tercapainya tujuan pembelajaran tersebut.
Dalam progam ini akan
di tekankan suatu pendidikan atau latihan kepada masyarakat desa yang bekerja
diluar bidang pertanian. Sasaran pada progam ini adalah para pedagang, tukang
bangunan, wiraswasta (yang memegang peranan kecil), serta di terapkan pula pada
masyarakat yang masih menganggur/belum bekerja. Progam ini bertujuan untuk
melatih skill serta menambah
pengetahuan pada bidang pekerjaan tertentu.
b. Pelaksanaan Progam-Progam Pendidikan
Nonformal Untuk Masyarakat Pedesaan
Pada pembahasan yang sebelumnya sudah di jelaskan
gambaran umum mengenai progam-progam yang di tawarkan untuk masyarakat pedesaan
dan semua progam itu pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup
masyarakat pedesaan itu sendiri. Pada pembahasan kali ini akan di jelaskan
secara rinci bagaimana pelaksanaan progam-progam tersebut. Untuk yang pertama
akan di jelaskan bagaimana pelaksanaan progam penyuluhan pertanian.
Dalam
progam penyuluhan pertanian terdapat suatu model penyuluhan yaitu model
penyuluhan konvensional. Model ini pernah di terapkan di Amerika Latin dan
sebagian besar di negara-negara Asia. Pada model ini di terdapat beberapa unsur
yaitu tujuan, sasaran, bahan ajar/bahan pendidikan, serta metode. Tujuan utama
dari penyuluahan dengan menggunakan model konvensional ialah “menggairahkan dan
membantu kaum tani untuk meningkatkan produksi dengan menerapkan cara-cara
kerja teknik yang sempurna” (Combs & Ahmed, 1974: 42). Kerja teknik yang
dimaksudkan ialah seperti memilih bibit yang baik, pengolahan tanah yang baik
dan tidak merusak kualitas tanah, penggunaan pupuk organik sangat dianjurkan
pada tahap ini seandainya harus terpaksa menggunakan pupuk kimia maka
penggunaanya haruslah sesuai dengan aturan, selanjutnya penggunaan alat-alat
pertanian yang ramah lingkungan, dengan menjalankan tahap-tahap ini, diharapkan
dapat menuai hasil yang maksimal dan baik.
Unsur
yang kedua yaitu sasaran penyuluhan. Sasaran yang utama yaitu para kaum petani
yang mempunyai ladang luas dan berjiwa progesif serta memiliki peran besar
dalam perkembangan ekonomi desa. Dalam tahap ini para kaum buruh juga di
ikutsertakan guna memperluas pandangan pemikiran mereka mengenai dunia
pertanian yang baik. Unsur yang ketiga yaitu bahan ajar/bahan pendidikan untuk
para petani desa. Unsur ini merupakan unsur yang terpenting dalam model
konvensional karena bahan ajar yang diberikan akan mempengaruhi hasil yang
ingin dituju. Dalam proses pembelajaran/pemberian pengetahuan juga harus
diperhatikan cara penyampaian kepada para petani yang mayoritas berumur di atas
25 tahun dan berpendidikan rendah. Bahan ajar yang sederhana tapi mengena dan
pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi)
lebih dianjurkan untuk di terapkan di sini. Dengan pendekatan andragogi, para petani diharapakan akan
lebih nyaman dan terfokus dalam memperoleh pengetahuan baru. Bahan ajar berisi
cara pengelolaan pertanian menggunakan teknologi produksi. Para petani di
ajarkan bagaimana menggunakan alat-alat produksi modern yang efektif dan efisien“seperti penggunaan traktor
dalam pengolahan tanah, terutama didorong oleh naiknya upah tenaga kerja
manusia dan ternak” (Kasryno, 1984: 34)dengan harapan akan meningkatnya hasil
dari pertanian itu sendiri. Di lapangan diterjunkan beberapa ahli untuk
mendampingi para petani dalam menggunakan alat-alat produksi tersebut dengan
demikian materi yang di berikan saat di forum belajar akan terlaksana dengan
baik saat berada di lapangan.
Unsur
yang terakhir dalam penyuluhan pertanian ialah metode. “Metode-metode yang
digunakan dalam usaha penyuluhan bersumber kepada rangkaian teori-teori ilmu
pendidikan,komunikasi dan perdagangan” (Combs & Ahmed, 1974: 43).
Penggunaan metode-metode tersebut bertujuan agar munculnya inovasi yang
menguntungkan secara cepat dan luas. Metode-metode ini juga berkaitan erat
dengan beberapa hal yaitu meningkatkan kesadaran diri dan minat dari para
petani desa.
Selanjutnya
akan dibahas mengenai progam pendidikan dalam bidang pertanian. Di dunia banyak
terdapat pusat-pusat pendidikan pertanian contoh saja pada negara Kenya (Pusat
Pendidikan Penduduk Pedesaan) dengan model pendidikan kejuruan, dan di Kolombia
( Progam Pembinaan Kejuruan Rakyat Pedesaan) yang menggunakan model pendidikan
dengan menggunakan sarana pendidikan yang berkeliling pada pelosok-pelosok desa
terpencil. Dari berbagai progam tersebut memiliki corak yang berbeda tetapi
tetap“menggunakan azas-azas dan metode pendidikan melalui serangkaian satuan
pengajaran yang sistematis....untuk membina kemahiran dalam kepandaian tertentu
beserta ilmu pengetahuan tertentu” (Combs & Ahmed, 1974: 57). Dalam bahasan
kali ini akan menitik beratkan pada usaha pembinaan keterampilan dan pengetahuan
dengan produksi pertanian.
Pendidikan bidang
pertanian akan dibagi menjadi dua kategori yaitu pendidikan jangka pendek dan
pendidikan jangka panjang. Dalam pendidikan jangka pendek para petani diberi
pengetahuan mengenai produksi tanaman komersil. Jadi tidak hanya terpaku pada
produksi padi dan jagung saja yang saat ini menjadi tanaman mayoritas di
pedesaan. Hal ini juga dapat mensiasati jika harga bibit padi atau pupuk
melambung tinggi jadi para petani dapat beralih kepada tanaman komersil lainnya
yang bibit serta pupuknya mudah didapat.
“Namun metodologi pengajarannya seragam, yaitu rangkapan ceramah di
ruang kelas....dan bergantian dengan kerja praktek di lapangan” (Combs &
Ahmed, 1974: 60).
Selanjutnya akan
dibahas mengenai pendidikan jangka panjang. Combs & Ahmed (1974:65)
berpendapat sebagai berikut.
Ada
empat ciri-ciri khas isi progam pendidikan ini yang perlu disoroti. Pertama,
diusahakan sedapat mungkin untuk menyesuaikan bahan pengajaran dengan pola
budidaya dan keadaan lingkungan di kampung halaman para peserta. Kedua, seluruh
kursus diselenggarakan sesuai dengan suatu siklus penuh untuk budidaya
bersangkutan, dan setiap bagian pengajaran disesuaikan dengan tahap tertentu
dalam siklus budidaya tersebut. Ketiga, bagian terbanyak dari masa pelajaran
disediakan untuk kerja praktek di ladang 25—33 sidang pelajaran dari sejumlah
48 sidang seluruhnya. Keempat, pelajaran di ruang kelas lebih dititikberatkan
pada diskusi dalam kelompok-kelompok kecil daripada ceramah pengajaran. Metode
ilmu pendidikan nampak sangat kontras dibanding pendekatan akademis dan
didaktis yang lazim diterapkan pada progam-progam pendidikan pertanian
formal....pada mulanya dimaksudkan untuk banyak menggunakan peraga (visual
aids), khususnya film pendidikan, namun ternyata film-film yang tersedia kurang
sesuai, maka sekarang kurang diutamakan menggunakan alat peraga. Juga
disediakan bahan-bahan bacaan dan setiap siswa diberi ikhtisar ringkas (aide memoire) tentang tiap-tiap mata
pengajaran.
Dari pendapat tersebut
dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran tersebut harus diperhatikan
bahan ajarnya. Bahan ajar yang digunakan haruslah sesuai dan mudah dipahami
oleh peserta didik (kaum petani). Juga dalam proses pendidikannya haruslah
lebih banyak praktek serta diskusi sehingga ilmu yang di dapat segera terasa
manfaatnya.
Progam pendidikan yang
terakhir yaitu progam pendidikan kejuruan di luar bidang pertanian. Sebelum
menginjak keprogam pendidikannya sebaiknya langkah yang pertama ialah
menganalisis keterampilan apa saja yang dibutuhkan di pedesaan. Di pedesaan
selain berprofesi sebagai petani, masyarakatnya juga berprofesi sebagai
tukang/pengrajin serta pengusaha industri kecil. Dalam progam pendidikan ini
akan dibagi tiga sasaran pendidikan yang pertama adalah pendidikan untuk pemuda
dan kaum dewasa usia muda, yang kedua ialah pendidikan teknik untuk pemuda dan
pengrajin yang sudah bekerja, yang ketiga adalah pendidikan rencana pembinaan
industri kecil.
Pada progam pendidikan
untuk pemuda dan kaum dewasa usia muda didasarkan pada suatu tujuan yaitu untuk
mempersiapkan mereka agar mendapat pekerjaan yang susuai. Keterampilan yang
akan diajukan juga relevan dengan keadaan saat ini contoh kecil saja
keterampilan menjahit. Keterampilan ini jarang sekali dimiliki oleh anak muda
sekarang dan ini merupakan peluang besar bagi mereka untuk menghasilkan sesuatu
dari keterampilan ini.
Selanjutnya ialah
progam pendidikan teknik bagi pemuda dan pengrajin yang sudah bekerja. Progam
ini didasarkan pada satu tujuan yaitu “untuk meningkatkan mutu pekerjaan,
keanekaragaman, produktivitas dan pendapatan mereka” (Combs & Ahmed,
1974:79). Pada progam ini para pemuda dan pengrajin diajarkan berkreasi
seoptimal mungkin agar hasil yang di ciptakan tidak monoton dan lebih
bervariasi. Misalnya dengan mengenalkan motif-motif baru khas daerah tertentu
yang dapat di aplikasikan pada kerajinan yang di buatnya. Dalam cara mengajar
seorang pendidik disini haruslah lebih menitik beratkan pada praktek langsung
sehingga pengaplikasian ilmu serta manfaat dapat langsung terasa.
Progam pendidikan yang
terakhir ialah pendidikan rencana pembinaan industri kecil. Pendidikan ini
bertujuan untuk peningkatan kualitas kerja pemimpin perusahaan serta
karyawannya baik dalam sistem oprasional maupun non-oprasional. Objek pertama
progam pendidikan ini tentunya adalah pemimpin perusahaan/industri kecil. Hal
yang perlu di tingkatkan ialah bagaimana memanajemen keuangan, mengelola sumber
daya, serta strategi bertahan dalam dunia pasar. Objek pendidikan yang kedua
ialah karyawan perusahaan/industri kecil. Hal yang perlu di tingkatkan ialah
etos kerja serta motivasi diri. Kedua hal ini adalah hal pokok yang harus
dipenuhi oleh semua karyawan disamping kemampuan teknis yang memadai.
c. Kendala yang Mungkin Terjadi Saat
Pelaksanaan Progam Pendidikan Nonformal
Secara
keseluruhan progam-progam pendidikan nonformal tersebut memiliki sasaran dan
tujuan yang sama yaitu kesejahteraan masyarakat pedesaan. Tapi langkah menuju
kesejahteraan tidaklah mudah banyak hal yang harus di perjuangkan.
Masalah-masalah juga kerap kali muncul dalam proses peningkatan kualitas hidup
itu. Masalah yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan progam-progam tersebut
ialah biaya atau pendanaan, fasilitas penunjang, motivasi serta kualitas diri.
Hal ini merupakan pokok masalah yang harus cepat tertangani. Apabila masalah
ini terus ada, maka harapan-harapan masyarakat desa untuk sejahterah akan sulit
terwujud.
d. Solusi Untuk Mengatasi Kendala Saat
Pelaksanaan Progam Pendidikan Nonformal
Pada penjelasan sebelumnya sudah dijelaskan beberapa
masalah yang muncul dalam pelaksanaan progam-progam pendidikan nonformal antara
lain yaitu biaya,fasilitas penunjang, motivasi dan kualitas diri. Ada beberapa
solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diantaranya yang pertama untuk
mengatasi masalah biaya atau pendanaan dalam pelaksanaan progam tersebut di
lapangan. Solusi yang ditawarkan dalam mengatasi masalah keuangan ialah
melakukan pinjaman di koperasi unit desa ataupun melakukan kredit. Hal ini
diharapkan dapat mengatasi masalah finansial dalam pelaksanaan progam tersebut.
Keuntungan peminjaman pada koperasi yaitu bunga yang sangat kecil kemudian ada
pula yang sistem pembayarannya dilakukan setiap panen sehingga hal ini
memudahkan petani untuk berkembang dengan pendanaan seperti ini.
Solusi
yang ditawarkan untuk mengatasi masalah minimnya fasilitas dalam pelaksanaan
progam ini adalah dengan membeli menggunakan dana pinjaman dari koperasi unit
desa atau mengkredit alat produksi
mekanis seperti traktor untuk mengolah tanah mengingat upah manusia dan ternak
yang tinggi. Hal ini berlaku untuk petani yang memiliki sawah atau ladang yang
luas. Bagi kaum buruh tani yang hanya menguasai faktor produksi tenaga kerja
maka buruh tani hanya dapat menerima balas jasa dari pemilik tanah. Solusi yang
ditawarkan untuk peningkatan motivasi serta kualitas diri ialah dengan
memberikan suatu pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat desa itu sendiri
yang tentunya hasilnya cepat dapat dirasakan. Tentunya pendidikan disini
haruslah efektif dan efisien untuk perkembangan kehidupan masyarakat pedesaan.
3.
PENUTUP
Pendidikan
nonformal menawarkan beberapa progam untuk peningkatan kualitas hidup
masyarakat pedesaan. Ada tiga progam yang menjadi landasan pengembangan
kualitas hidup masyarakat desa, yaitu (1) progam penyuluhan pertanian, (2) progam pendidikan
bidang pertanian, (3) progam pendidikan kejuruan luar pertanian. Dari ketiga progam ini
memang lebih dititik beratkan pada petani mengingat mayoritas penduduk desa
adalah petani. Akan tetapi pendidikan nonformal juga menyoroti masyarakat yang
bekerja diluar bidang pertanian.
Jika semua
penduduk desa dapat melaksanakan progam tersebut maka penghasilan yang
diperoleh oleh masyarakat desa akan meningkat. Masalah ekonomi yang selama ini
dirasakan masyarakat desa akan berkurang. Kualitas hidup masyarakat desa juga
akan semakin membaik serta jurang kesenjangan sosial juga akan semakin
menyempit.
DAFTAR RUJUKAN
Combs, H Philip. 1974. Memerangi Kemiskinan di Pedesaan Melalui
Pendidikan Nonformal. Jakarta: CV. Rajawali
Kasryno, F. 1984. Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan
Indonesia. Bogor: PT Midas Surya Grafindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar